/ Ruang Tengah

Luka

+ Kenapa orang-orang patah hati malah meresapi kesedihannya dan tidak membuangnya jauh-jauh?


- Mungkin, itu cara mereka meyakinkan diri sendiri bahwa cinta yang mereka miliki selama ini adalah sesuatu yang nyata. Kita tidak akan merasa benar-benar sedih kalau tidak benar-benar cinta, kan? Sayangnya, menutup luka tidak akan membuatnya segera sembuh. Menyangkal bahwa kamu sedang terluka tidak akan membuat luka itu hilang.

Menulis, adalah caraku mengakui bahwa aku sedang terluka. Bahwa aku gagal dalam sesuatu. Bahwa aku tidak berhasil mewujudkan kebahagiaan yang aku rencanakan.

Aku tidak tahu apakah akan segera sembuh dengan menuliskan luka-lukaku. Kamu tahu, tidak seperti luka karena terjatuh di jalan atau tersayat pisau, luka karena cinta bukanlah luka luar, yang darah dan sobekannya terlihat jelas. Luka karena cinta dan rindu yang gagal adalah luka dalam. Meski tidak terlihat, luka tersebut ada. Ada, nyata, dan terasa.

Kebanyakan orang lebih senang menceritakan sisi manis dari cinta. Sedikit sekali yang mampu berterus terang mengakui dan mengisahkan sisi gelap cintanya.

Padahal, meski tak diinginkan, selalu ada keresahan yang tersembunyi dalam cinta. Bukankah cinta selalu begitu? Di balik hangat pelukan dan panasnya rindu antara dua orang, selalu tersimpan bagian muram dan tak nyaman. Sementara, setiap orang menginginkan cinta yang tenang-tenang saja.

Cinta adalah manis. Cinta adalah terang. Cinta adalah putih. Cinta adalah senyum. Cinta adalah tawa.

Masih beranikah kau untuk jatuh cinta lagi?

Aku tidak tahu apakah dengan menulis ini akan menyembuhkanku. Namun, jika ingin jatuh cinta lagi, jika aku ingin sembuh dari luka lama, jika aku ingin merancang kebahagiaan baru, aku tahu aku harus memulai sesuatu.

Mari patah hati bersama. Mari sembuh, dan jatuh cinta lagi, bersama.

Luka
Share this

Subscribe to Farah Clara